Thursday, April 23, 2015

Piknik ke Rumah Hutan di Kampung Bojong

Rumah Hutan#1Pernahkah kita membayangkan, kalau hutan adalah tempat yang nyaman bagi kita? Bukankah selama ini hutan identik dengan semak belukar, ular, dan setan? Setidak-tidaknya, begitulah yang ada di benak masyarakat Kampung Bojong, Cilowong, Serang. Tapi, siapa pernah menyangka, jika hutan yang kita bayangkan seperti itu ternyata tidak terbukti? Tidak percaya? Saya sudah membuktikannya dengan piknik ke Rumah Hutan di kampung Bojong, Cilowong, Serang, Banten. Ini betul-betul piknik murah meriah!




CITA-CITA
Lim Oei Ping pada 2015 ini berumur 74 th. Lelaki Cina asal Sulawesi Tengah, yang merantau ke Serang sejak 1962, punya cita-cita ingin menjadikan hutan di Banten sebagai surga. Koh Iping, panggilan akrabnya, dengan bertumpu pada sebatang kayu, menaiki serta menuruninya untuk sampai ke “surga” miliknya, di tengah hutan, gunung Sayar, presis di Kampung Cidampit, Bojong, Cilowong, Serang. Usianya yang lanjut tidak menjadikannya loyo, malah seperti masih berusia 50-an saja.

”Saya ingin membawa hutan di kampung saya ke Banten. Di kampung saya, di daerah Toli-toli, hutan sangat nyaman untuk dihuni, dijadikan tempat berkebun dan bercocok tanam. Tidak ada kesan angker. Tapi anehnya di Banten, orang-orang membiarkan hutan dipenuhi semak belukar, seram, dan jadi sarang ular tanah. Malah ada yang menganggap hutan itu tempat setan!” kata pemilik Toko Krakatau di Royal ini.

Koh Iping pelan-pelan mewujudkan cita-citanya. Pada 2005, dia membeli tanah seluas 6000 m2. ”Saya ajak beberapa warga untuk menatanya. Pohon-pohon yang tidak perlu dibabat, sehingga beberapa pohon durian tampak indah seperti bonsai raksasa. Semak-semaknya dibuang. Saya tanami rumput,” kenangnya.

Lalu dia membangun pondok-pondok, lumbung padi, perpustakaan, lapangan badminton, kandang ayam dan kambing. Diberinya nama ”Rumah Hutan”. Koh Iping berkelakar, ”Sekarang ’Rumah Dunia’ ada saingan, yaitu ’Rumah Hutan’ punya saya.” Setiap sebulan sekali, dia datang ke surganya. ”Saya paling suka duduk di paninjauan ini,” katanya. Paninjauan adalah pondok kayu 2 lantai. ”Saya merasa bahagia melihat pohon durian. Jika diibaratkan perempuan, kita bisa melihat utuh pohon durian dari mulai kaki, tangan, hingga ujung rambutnya.”

TREE IN ONE
Bagi Koh Iping, hutan adalah anugrah terindah dari Allah SWT. ”Bodoh, jika kita menyia-nyiakannya. Hutan itu harus tree in one; bisa dihuni, ditanami, dan jadi tempat berternak.” Dia tahu, menghuni hutan sangat bertentangan dengan tradisi di Banten yang agamis. ”Bagi warga di Kampung Bojong ini, tinggal di hutan sama saja dengan menyalahi aturan. Bagaimana nanti ke mesjid, untuk sholat berjamaah? Padahal bagi saya, hutan itu mestinya nyaman. Semua yang kita inginkan ada di hutan. Kita tidak perlu menanam, tinggal merawat saja, sehingga nanti panen bisa berlipat-lipat.”

Koh Iping menawari beberapa warga untuk menjaga ”surga” miliknya. Bahkan memberinya gaji rutin perbulan. ”Mereka kaget. Tinggal di hutan bukanlah tradisi mereka. Padahal saya menawarkan sistem ’hak milik’. Mereka saya berdayakan dan saya beri penghargaan dengan cara memiliki setiap tanaman yang mereka tanam. Saya tidak menjadikan para petani kuli, tapi justru merekalah pemiliknya,” papar pengagum Bung Karno ini. Untung ada sebuah keluarga yang menerima tawarannya.Baginya, jika kita mau menghuni hutan, itu sama dengan melestarikan hutan pemberian Tuhan.

Setelah 2 tahun berlalu, pohon-pohon yang ditaman, seperti pisang dan nangka, berbuah. Koh Iping membelinya jika sedang berkunjung. Untuk dibawa pulang ke kota. Bahkan setiap apa yang dimakan dan diminumnya, dia membayarnya. ”Dengan begitu, kita menghargai setuiap jerih payah kita. Terlebih lagi, kita menghargai pemberian Tuhan,” tegasnya.

PERPUSTAKAAN
Lebih unik lagi, Koh Iping, yang selagi mudanya termasuk pemain badminton papan atas diSerang, membangun lapangan badminton dan perpustakaan. Jika dipikir matang, siapa yang mau membaca buku di tengah hutan dan main badminton? Tapi dugaan itu salah. Selepas jam sekolah, anak-anak kampung berwisata di ”rumah hutan’ miliknya. Koh iping menyediakan raket serta koknya. Anak-anak bisa bermain badminton di tengah hutan, yang tentu udaranya bersih. Setelah main badminton, anak-anak itu membaca buku. “Memang bukunya belum banyak. Semoga ‘Rumah Dunia’ bisa menyumbang,” harap Koh Iping.

Keberadaan ”rumah hutan” ini dirasakan juga oleh Muhamad (15), siswa kelas 3 MTs Daarul Musyaroh, Pereng, Taktakan. ”Hampir setiap pulang sekolah saya dan teman-teman selalu ke sini. Selain bisa baca buku, saya juga bisa main bulu tangkis gratis,” ujar Muhamad yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola handal. ”Sayangnya belum ada lapangan bola dan basketnya juga!” tambahnya.

Harapan lainnya, koh Iping menginginkan ”rumah hutan” miliknya ini menjadi percontohan di Banten. ”Para pejabat di Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Pendidikan bekerjasama dengan Camat untuk membangun ’rumah-rumah hutan’ di tempat lain. Dengan begitu, para petani di Banten akan menikmati hasilnya, yaitu panen raya!” Jika sudah begitu, ”Saya bahagia. Itulah makna hidup. Kesejahteraan dan bermanfaat. Saya akan merasa sepeti berada di sebuah puncak gunung. Walaupun capek, rasa bahagianya sudah di puncak, tinggal bertemu dengan ’rumah Tuhan’ saja.”
Bagaimana, Bapak-bapak? (GG)

No comments:

Post a Comment